Akhir Sebuah Kegelisahan

Lelaki itu hanya menundukkan kepala, duduk bersila sambil meletakkan kedua tangannya di atas kakinya yang sedang bersila. Sepuluh jari tangannya semakin erat menyatu seiring derasnya aliran air matanya yang terus menetes membasahi pipi, jenggot dan akhirnya jatuh ke sajadah merah yang sudah nampak tua. sajadah itu ia bawa sepuluh tahun yang lalu dari kampungnya.
Tak ada kata yang terucap selain istighfar, “Astaghfirullah Astaghfirullah….” yang semakin membuat deras air matanya. Dadanya bergemuruh kencang, disaat malam masih pulas tertidur. Lehernya terasa tercekik karena menahan sesenggukan tangis yang belum juga terhenti.
Terbayang di matanya kisah sebulan yang lalu. Saat HPnya dapat beberapa miscall dari seseorang. Dia juga masih teringat sekali, dia membalas misscal tersebut dengan sebuah SMS, “Semoga hati selalu terjaga dalam batas-batas yang Dia tentukan”. Dan terbalas lagi, “Loh kenapa mas, kan tidak ada salahnya bersilaturahim, asalkan kita bisa menjaganya”.
Di saat itulah hatinya mulai guncang, dan di saat itu pulalah di dalam hatinya selalu berkecamuk peperangan antara iman dan keinginan. Sering terjadi debat dalam batinnya. Iman selalu mengatakan bahwa agar selalu berhati-hati terhadap godaan, tapi keinginan dengan sangat sopan dan santun mengatakan bahwa tidak mengapa bersilaturahmi, karena selama ini jarang bersilaturahmi kepada wanita.
Akhirnya sms itu pun tak dia balas-balas lagi, ia hanya menuruti hati kecilnya, bahwa aku harus berhati-hati, namun dia tetap saja dibayangi saat-saat wanita berkerudung panjang itu datang ke rental tempat kerjanya sekaligus tempat tinggalnya. Ada harapan indah yang terus dijanjikan oleh bisik keinginannya….masyaAllah wanita sholehah katanya.
Waktu terus berjalan, hari berganti hari dan peperangan itu terus berkecamuk dalam hatinya. Hingga di suatu petang, saat dia duduk menyaksikan berita di TV, tiba-tiba….”oi…ada yang nyariin…”!! suara teman dari lantai bawah. Dia pun segera turun, dug….”, saat dia turun dia lihat wanita berjilbab panjang yang membuatnya gelisah itu datang bersama seorang laki-laki.
“Ada apa mbak? Tegurnya.
“Mau ngedit ketikan skripsi tempo hari mas, sedikit kok.
“Oh ya…,” kemudian ia membuka file dan segera mengedit apa yang diinginkan wanita tersebut. Dan akhirnya selesai juga dia mengeditnya.
“Piro mas?, sahut lelaki yang menemani wanita tadi.
“Sekalian tumbas minyak wangi itu, sembari menunjuk barisan minyak wangi yang terdapat di atas etalase. “Sebelas ribu mawon mas.”. Dan akhirnya terjadi perbincangan sesaat,
“Lha jenengan asli pundi mas? (Kamu asli mana mas?). Kulo asli Wonogiri, saya kakaknya Ambar…perkenalkan Warono. Mendengar Wonogiri jantungnya seakan hilang, pikirannya seakan kosong, kaget dan tidak menyangka sama sekali bahwa ternyata wanita yang selama ini menanamkan kegelisahan itu satu kabupaten dengannya. Dia lalu naik ke lantai atas, mematikan TV lalu berbaring menatap atap bangunan rental yang tampak menua itu……., hitam…namun di situ muncul bayangan…saat orang tuanya berpesan bahwa nanti kalau mencari jodoh kalau bisa orang jawa, syukur-syukur jawa tengah atau dekat dengan Wonogiri. Dia masih saja membaringkan tubuhnya,…
“Ya Allah inikah jodohnya, begitu cepatnya dia datang, padahal aku baru akan Sidang Skripsi…beban ini belum lunas ya Allah….mudahkan jalan ini bila dia jodohku…”hatinya berdoa.
Begitulah perasaannya setelah mengetahui bahwa perempuan itu satu kabupaten dengannya. Kegelisahan itu pun akhirnya bercampur harapan. Setiap wanita itu datang, semakin yakin ia bahwa wanita itu adalah jodohnya. Namun hati kecilnya terus memberontak, tidak mau menerima yang selama ini telah terjadi. Karena selama ini dia telah berinteraksi dengan wanita yang bukan muhrimnya. Dan itu merupakan aibnya yang selama ini ia tutup-tutupi. Padahal di kampus, ia adalah dedengkot rohis. Dan tak jarang ia menegur langsung anggota rohisnya yang agar cair berinteraksi dengan lawan jenis. Lewat tulisan-tulisannya di mading, ia pun sering menuliskan tentang adab pergaulan lawan jenis dalam Islam. Bahkan ada anggota rohis yang sudah tidak aktif lagi gara-gara tidak terima di nasihati agar tidak terlalu cair berinteraksi dengan wanita. Namun apa yang terjadi kini? Dia sendiri pun mengalami terjangkiti virus yang selama ini gencar menyerang para ikhwan.
Hingga akhirnya ia mengadukan kegelisahannya kepada ustadz yang selama ini mengajarinya mengaji. Ia menceritakan panjang lebar tentang kegelisahannya. Dan akhirnya satu pertanyaan yang muncul dari mulutnya
“Tadz, ini anugerah ataukah musibah bagi ana ya?
Ustadznya pun menjawab, “Begini akh…, setiap permasalahan biasanya mengandung dua sisi kebaikan dan keburukannya. Nah…mendengar cerita dari antum, ane berpendapat bahwa hal ini tergantung dari dari bagaimana kita menyikapinya. Menjadi anugerah jika antum segera mempercepat pernikahan, sehingga antum mendapat separuh din dan juga mendapat ketenangan darinya. Lalu juga menjadi bencana ketika antum mencoba bermain-main dengan masalah ini. Artinya jika antum tidak secepatnya menikah, maka dimana ruh materi yang selama ini kita bahas?”
“Ane setuju ustadz, tapi ane baru mau sidang lalu juga belum mendapat pekerjaan yang cukup menurut ane.
“Ya.. itu akhirnya tergantung pada pilihan antum. Ane, memahami perasaan antum, artinya kriteria akhwat yang antum pesan ka ane sudah antum temui, yaitu orang jawa dan sebagainya. Tapi menurut ane sekali lagi, antum perlu ambil jalan yang tegas. Menikah atau tidak, sebenarnya nikah siri pun bisa agar terjaga dari fitnah. Tapi kalau antum belum siap, maka saran ane, secepatnya antum matikan rasa cinta di dalam hati antum. Antum mengerti kan maksud ane?”
“Iya tadz, ane sangat mengerti. Ane akan pikirkan lagi masalah itu.”
Setelah dirasa cukup, maka lelaki itu kemudian mohon pamit pulang.
“Baik Ustadz, sebelumnya syukron atas semua masukannya, ane pamit dulu tadz, mohon doanya. “Assalamu’alaikum……”
Wa’alaikumussalam…”
Dengan wajah muram laki-laki itu melangkahkan kaki meninggalkan rumah usdadznya. Berharap akan mendapat solusi dari ustadnya, namun sekarang malah semakin bingung rasa hatinya. Masih terngiang saran ustadznya, “nikah secepatnya atau matikan rasa cinta itu”. Sepanjang jalan seakan tidak ada yang membuatnya menarik, selain mencari jawaban atas dua pertanyaan : “menikah secepatnya atau mematikan rasa itu?”
Sesampainya di rental, dia langsung menuju lantai atas, hanya sepatah kata salam dan sedikit paksaan senyum ketika melewati teman-teman yang masih ditunggui beberapa konsumen rental. Lalu ia rebahkan tubuhnya, ia memejamkan mata, membayangkan seandainya saat dia sudah bekerja kemudian langsung memutuskan untuk menikah. Lalu tiba-tiba,
“Astaghfirullah…aku sampai lupa, dulu pas kuliah Pak Joko pernah nawarin kerja ya, mungkin aku bisa hubungi dia, jika nanti setelah sidang bisa langsung bekerja di tempatnya”, gumamnya. Pak Joko adalah seorang kontraktor langganannya mengetik surat-surat.
Lalu segera ambil hp, dia tulis sms menanyakan perihal pekerjaan tersebut. Lama sekali tidak dibalas oleh Pak Joko. Tapi tiba-tiba…nada panggil hpnya berbunyi…”Nurkholim”, tertulis nama di HP tersebut. Dia angkat, Halo Assalamu’alaikum pak….
“Wa’alaikum salam, gimana kabar?
“Waduh kabar apa nih…skripsi kan?
“Iya….
“Iya pak…aku tinggal nunggu sidangnya nih…, maklum kampus kita kan nunggu kuota dulu..hehe…
“Wah kebetulan nih….tadi dapat telpon dari Pak Kajur, kita bisa nggak 3 hari lagi Sidang Skripsi.
“Wah InsyaAllah pak…ini juga lagi nunggu-nunggu…perlu dipercepat nih pak.
“Oke berarti kita ada 5 orang yang maju sidang, yang pagi kamu dan yang sore ada 4 satu kelas dengan aku”.
“Oke pak…, jam berapa?”
“Jam 14.00 di Ruang 303, jangan lupa di perbanyak 5 kali ya skripsinya.
“Iya pak ini sudah siap.
“Oke…sampai nanti ya….
“Sip pak…, makasih.
“Sama-sama…Assalamu’alaikum.
“Wa’alaikum salam.
“Alhamdulillah Allahu Akbar…akhirnya aku sidang juga, teriaknya gembira.
Saat yang ditunggu pun tiba, ia bisa melewati sidang skripsi itu walau ada perbaikan-perbaikan. Dia dinyatakan lulus waktu itu juga. Kemudian ia memberi tahu ibu bapaknya di kampung. Betapa gembiranya kedua orang tuanya mendengar kabar itu, tangis bahagia pun mewarnai percakapan mereka.
Lalu setelah itu ia teringat seorang akhwat yang sampai saat ini membuatnya gelisah, dengan memberanikan diri dia menulis sms…”Alhamdulillah saya sudah lulus sidang skripsi…semoga interaksi yang kurang diridhoiNya selama ini segera berakhir …dengan jalan yang suci ya ukhti”
“Alhamdulillah…selamat ya mas….namun saya masih menunggu kabar bab 4 dan bab 5 yang masih dibawa pembimbing materi, mudah-mudahan dipercepat, Amin.”.
Dia balas “Amin”.
Di saat itu berkuranglah sedikit kegelisahannya. Dia terus berdoa dan berharap mendapat pertolongan dari Allah secepatnya.
Benar 2 hari setelah sidang dia ditelepon pak Joko, dan akhirnya dia pun bisa mulai kerja hari itu pula. Namun sebelum bekerja dia berniat pulang ke kampung untuk menemui kedua orang tuanya.

***
Sesampai di kampung, dia disambut haru kedua orang tuanya, menangis bahagia melihat anaknya sudah berhasil menyelesaikan kuliah selama 4 tahun di Jakarta. Tiga hari sudah ia menghirup segarnya udara desa, berjibaku dengan rerumputan juga ikut merasa berpesta di sawah, karena memang sudah waktu panen.

Hingga di suatu malam, usai dia sholat Isya,
“Alhamdulillah ya pak, panen kita melimpah.
Iya, alhamdulillah…padahal dulu sempat hampir mati karena tidak ada hujan. Tapi alhamdulillah, pas hampir mati itu hujan sering turun hingga sekarang.
Iyo le…dulu ibu hampir-hampir putus asa, berdoa nunggu hujan, tapi alhamdulillah Gusti Alloh memang tahu kebutuhan hambaNya.
Nggih…lah bu…janji Gusti pasti ditepati, doa hambaNya pasti dikabulkan.
Iya…le memang betul itu. Oia ngomong-ngomong, kapan kamu mau balik Jakarta, nanti ditunggu sama bosmu lagi. Kalau ibu pinginnya sih kamu agak lama di kampung, lha tapi kan kamu baru mau masuk kerja.
Nggih bu, kemarin ijin 4 hari kok, pak Joko juga bisa memaklumi.
Oh ya sudah kalu begitu.
Setelah hening sesaat….
Pak, bu…
Ya apa le? Jawab bapak ibunya hampir bersamaan.
Anu pak, bu….diam sesaat lagi..
Iya aku tahu, masalah nikah kan? Ibu menjawab dengan nada menerka.
Dugg….ia kaget…, Lho kok ibu tahu? Ia menjadi kelihatan bingung.
“Sebelum sidang kemarin, paklekmu Marjo telepon nanya-nanya kabar kampung, katanya dia minta doa dari saudara-saudara kampung dia mau renovasi rumah. Nah..waktu itu ia bilang bahwa kamu pernah bicara uneg-uneg nikahmu sama dia”, jelas Bapaknya.
“Aku sampai dua malam tidak bisa tidur lho le…, hiks, hiks, hikss..,” ibunya menimpali sambil menangis.
“Ngapunten bu….maaf
“Bukannya tidak boleh menikah le..ibu hanya khawatir, takut kalau gara-gara kamu sudah mikir untuk nikah kuliahmu jadi berantakan, jadi tidak lulus, kan jadi percuma kamu susah payah kuliah 4 tahun di Jakarta”, jelas ibunya lagi sambil menyeka air mata.
Ia hanya diam, di matanya sudah nampak mendung, hatinya merasa salah tak menentu, sembari memaklumi perasaan ibunya yang selama ini terus mendoakan agar dia cepat lulus kuliah.
Bapaknya pun hanya terlihat diam, seperti bingung mau berkata apa. Sementara Iman, adiknya yang paling kecil tak terpengaruh dengan suasana itu, ia masih tetap asyik menonton televisi.
“Mboten kok bu…pak,, sekali lagi mohon maaf, hiks, hiks, hiks…, saya juga tidak mau gagal kuliah, makanya saya berusaha keras untuk cepat menyelesaikan skripsi untuk dapat mengejar dapat kerja, lalu matur ini ke Bapak Ibu.
“Yo wis le, akhirnya bapaknya menyahut.
“Iya, bapak dan ibu sudah sangat bersyukur, kamu sudah lulus, sudah tenang, apalagi kamu sudah langsung dapat bekerja, nanti bapak sama ibu hanya bisa ngasih uang dari jual sapi di belakang rumah itu,” jelas ibunya yang mulai tenang.
“MasyaAllah pak, bu…maturnuwun, saya sebenarnya juga berat mengungkapkan ini, tapi..saya tidak mau dan takut banyak dosa, jika tidak segera menikah, saya sudah kenal seorang wanita……
“Iya…paklekmu Marjo juga sudah cerita, alhamdulillah harapan ibu dan bapak agar kamu menikah dengan orang jawa atau sedaerah terpenuhi…” potong ibunya.
“Lalu gimana rencanamu?”, Tanya bapaknya sedikit penasaran.
“Begini pak, bu,..sekarang ini kan calon saya juga masih nunggu selesai skripsi, insyaAllah tinggal sebentar lagi.
“Lho belum lulus kuliah?…Ibunya kaget. “Nanti gimana orang tuanya?”.
“InsyaAllah tidak apa-apa kok bu..pak, dia juga sudah mencoba memberi pengertian kepada kedua orangtuanya, memberi pemahaman bahwa jika kita terlalu lama berhubungan atau saling kenal, nanti malah jadi musibah, maksud saya pacaran, kan malah membuat dosa dan akibatnya kita jadi menambah dosa bapak ibu juga. Jadi lewat menikah inilah kita ingin jadi anak yang sholeh dan sholehah, berbakti kepada orang tua, karena mencoba menjauhi laranganNya Gusti Allah…dan…hiks..hiks…walaupun sebenarnya saya pingin mencari uang dulu secukupnya, biar bisa ngasih ibu bapak…hiks…hiks…hikss….
“Sudahlah le…sudah…” bapak dan ibunya coba menenangkan.
“Ibu bapakmu gak mengharapkan itu semua kok le, asal anak bisa bahagia dan mapan di Jakarta, ibu bapak sudah seneng kok…, tambah ibunya.
“Gih pak bu…maturnuwun, jadi begini pak bu…mudah-mudahan bulan ini calon saya sudah lulus. Kemudian proses lamaran, lalu untuk akad nikahnya pinginnya sebelum ramadhan, nanti penentuan tanggalnya dirembug waktu lamaran itu. Saya coba ingin sampaikan, agar hajatannya tidak usah mewah-mewahan, yang penting sah agama dan Negara, paling ngundang saudara-saudara dekat dan tetangga…”..kira-kira begitu bu..pak… jelasnya, sambil mengucek matanya yang masih terlihat memerah.
“Ya sudah le…kalau begitu rencanamu, mudah-mudahan tidak ada halangan…dan sehabis menikah pun makin banyak rezekimu,
“Iya…sahut Bapak.
Amin…tutupnya terharu.
Akhirnya, malam saat itu pun kembali menyelimuti bumi dengan kelamnya. Namun tampak ia menuliskan sesuatu di buku hariannya..lalu tersenyum dan terharu mendengarkan percakapan itu.
***

Empat hari sudah ia di kampung, hari terakhir itu suasana hatinya menjadi tak menentu, ada rasa senang, harap untuk segera ke Jakarta, tapi juga ada rasa sedih yang mendalam karena berpisah lagi dengan para kekasih hatinya.
Kebiasaan saling menangis itu pun terulang saat ia berpamitan…
“Bu pak…, saya pamit dulu ya…mohon doanya terus…hiks, hiks..hiks.., ia memeluk bapak ibunya bergantian sambil menangis.
“Iyo le…bapak ibu terus berdoa…ati-ati…
“Sekolah sing pinter ya Man…., dia pamitan sama adiknya.
Assalamualaikum….
Waalaikum ssalam….ati-ati le…
Gih…bu…”
Siang itu pun panas mentari menyaksikan keharuan itu…,
Bis jurusan Jakarta yang ditumpanginya terasa berat membawanya ke kota harapan. Dalam perjalanan terbayang percakapan yang sempat di dengar oleh Sang Purnama kemarin malam, tak terasa kedua mata yang masih memerah itu pun belum habis juga mengeluarkan bulir-bulir air bening…menetes, menyatakan keharuan dan harapan. Dilihatnya pepohonan di sepanjang jalan seakan memberi salam perpisahan, “selamat berjuang di sela-sela bangunan tinggi itu saudaraku…”.
Tiba-tiba…., tit…tit…tit…tit…, Bunyi Hpnya membuyarkan suasana hatinya. Buru-buru dia rogoh kantong depan celananya, dia ambil hpnya dan mencoba membuka pesan itu….tertulis..dari Ukthi Wng, “Aslkm, mas, alhamdulillah skripsiku sudah di Acc semua…tinggal maju sidang besok hari Kamis”.
Ia memejamkan matanya…nampak tersungging senyum, lalu membalasnya, “alhamdulillah..saya dalam perjalanan balik ke Jakarta, mudah-mudahan ini pertanda ridhoNya…”di kirimnya lalu tak lama kemudian terbalas lagi, “Amin”.
Dan bis yang ditumpanginya terasa melaju dengan cepatnya…
Secepat harapan di hatinya.

***
Semilir angin malam, masuk perlahan melewati celah jendela kaca nako yang sedikit terbuka, seolah ingin menyeka basah pipi pemuda yang masih terduduk bersila itu…
Allahu Akbar…Allahu…Akbar…, dan adzan shubuh pun berkumandang, menghentikan bayang-bayang di pelupuk matanya, dia tarik nafas dalam seraya mengucapkan hamdalah. Setiap kalimat adzan itu terdengar menggetarkan, menyejukkan, mengalirkan kekuatan di hatinya. Lalu ia pun berdiri, mengerjakan sholat sunnah yang melebihi alam semesta serta isinya itu. Selesai salam ia tengadahkan kedua tangannya,
Ya Allah, ya Rahman, ya Ghaffar….hiks…hiks…hiks…
Tangan ini kuangkat sebagai tanda kekerdilanku……
Tangan ini kuangkat tuk meminta ampunan dariMu..
Tangan ini kuangkat karena ku takut adzabMu..
Kurindu kasihMu….kucinta Rasul kekasihMu…

Rabb..
Segala puja dan kesyukuran hanya untukMu..
Aku malu…, di saat hati ini condong ke makhlukMu
Engkau tak buru-buru mengadzabku…dan itu yang kutakut dariMu
Engkau mudahkan semua…
Tuk..menggapai cita dan cinta..
Tuk..coba mengikat segala rasa
Pada tautan ridhoMu….

Ya..Allah,
Berilah hambaMU kekuatan kembali…
1 bulan ke depan ini….
Tuk menyambut akad suci nanti….
Semoga terampuni segala khilaf…
Semoga terampuni segala dosa hambaMu yang lemah ini ya..Allah…
Hiks…hiks…hiks…

Kemudian ia menyeka air matanya, berdiri lalu melangkah menuruni tangga, menuju Musholla…., terlihat Sang Rembulan yang menyaksikan tangis pemuda itu dari celah jendela nako, ia kembali tersenyum juga terharu..melihat penyesalan dan tekad pemuda itu…
Ia bergembira, setelah mendapat kabar dari matahari bahwa pemuda itu tadi siang telah melamar wanita yang selama ini membuatnya gelisah….lalu ia mendoakan…
“Rabb…..semoga bahagia segera mengakhiri kegelisahannya”…Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *