Hisablah Diri Kalian Sebelum Kalian Dihisab

Pada hari yang serba sulit itu,

          “Lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan semua wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tapi adzab Allah itu sangat keras.” (Al-Hajj :1).

Pada hari ini anak-anak kecil menjadi beruban dan manusia paling suci, para nabi dan rasul, berseru dengan suara mengiba, ”Tuhanku, selamatkan aku. Tuhanku, selamatkan aku. ”Pada hari bumi terbelah, langit pecah, bintang-bintang jatuh berguguran, dan sistem kerjanya tidak berjalan normal. Pada hari bumi bicara guna, ”Menceritakan beritanya.Karena sesungguhnya Tuhanmu memerintahkan (yang sedemikian itu ) kepadanya.”(Az-Zalzalah: 4-5).

Pada hari itu, manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang bulat dan tidak berkhitan, di atas satu dataran. Hari itu, matahari hanya berjarak satu mil dengan kepala manusia, lalu mereka mandi keringat. Tidak hanya itu, keringat mereka menembus bumi sedalam tujuh puluh hasta dan keringat membalut tubuh mereka, hingga mencapai telinga mereka. Ya, pada hari itu, manusia dihisab (dievaluasi) atas apa yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia dan sejauhmana realisasi tujuan penciptaan mereka yang berhasil mereka wujudkan. Mereka di-hisab dengan cermat dan tidak pernah terbayang di benak manusia.Ketika melihat buku catatan amal perbuatannya penuh dengan laporan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya,seseorang berkata,

Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan mencatat semuanya. ”(Al-Kahfi: 49).

Amal sebesar atom pun kelak ditanyakan, Allah Ta’ala berfirman,

“Siapa mengerjakan kebaikan seberat atom pun, niscaya dia melihat (balasan)nya. Dan siapa mengerjakan kejahatan seberat atom pun, niscaya dia melihat (balasan)nya pula.”(Az-Zalzalah : 7-8).

 

Hisab pada Hari Kiamat

Ada empat hal di antara yang dihisab pada seseorang di Hari Kiamat, seperti disebutkan di hadist riwayat At-Tirmidzi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Dua kaki seorang hamba tidak dapat bergerak pada Hari Kiamat, hingga ia ditanya tentang empat hal : tentang umurnya; untuk apa ia gunakan, ilmunya; yang mana saja yang telah ia amalkan, hartanya; dari mana ia mendapatkannya sekaligus ia gunakan untuk apa, dan tubuhnya; untuk apa ia manfaatkan.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

 

Shalat aspek pertama yang dihisab pada seseorang di Hari Kiamat kelak, seperti diriwayatkan Abu Dawud di hadist shahih bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

 “Amal perbuatan yang pertama kali dihisab pada seseorang di Hari Kiamat ialah shalat. Allah Azza wa Jalla berfirman kepada para Malaikat-Nya, ’Coba perhatikan shalat hamba-Ku ini; apakah shalatnya sempurna atau tidak? ’Jika shalatnya sempurna, maka ditulis sempurna baginya. Jika shalatnya ada yang tidak sempurna, Allah berfirman,’Coba perhatikan shalat sunnah hamba-Ku ini. ’Jika hamba tersebut pernah mengerjakan shalat sunnah,Allah berfirman, ’Lengkapi shalat wajib hamba-Ku ini dengan shalat sunnahnya.’Lalu,amal perbuatan lain diproses seperti itu. ”(Diriwayatkan Abu Dawud).

 

Kesaksian Organ Tubuh

Jika seseorang menolak mengakui salah satu amal perbuatan yang diperlihatkan kepadanya, maka Allah Ta’ala membuat organ tubuhnya menjadi saksi baginya dan mengatakan apa saja yang ia kerjakan dengannya.Itulah yang terjadi, hingga seseorang berkata pada Hari Kiamat, ”Tuhanku, aku beriman kepada-Mu,Kitab-Mu, dan Rasul-Mu. Aku juga shalat, berpuasa, dan bersedekah. ”Ia mengungkit-ungkit semua kebaikan yang mampu ia sebutkan. Allah berfirman “Kemarilah.”Allah berfirman lagi,”Sekarang, Aku sediakan saksi bagimu. ”Orang tersebut bertanya-tanya siapakah yang akan menjadi saksi baginya? Tiba-tiba, mulutnya dikunci dan dikatakan kepada pahanya, ”Bicaralah. ”Lalu, paha, daging, dan tulang orang tersebut melaporkan seluruh perbuatannya. Itu agar ia mendapatkan hujjah (saksi) dari dirinya sendiri. (Diriwayatkan Muslim).

Tentang kesaksian organ tubuh ,Allah Ta’ala berfirman,

“Pada hari lidah,tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dulu mereka kerjakan.”(An-Nuur:24).

Allah Ta’ala menceritakan caci maki manusia terhadap kulit mereka sendiri,

Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ’Kenapa kamu menjadi saksi atas kami?’ Kulit mereka menjawab, ’Allah yang menjadikan segala sesuatu berkata juga menjadikan kami berkata’.”(Fush-shilat:21).

 

Hisablah Diri Kalian sebelum Kalian Dihisab

Siapa ingin selamat dari kehinaan dan pertanyaan (hisab) pada Hari Kiamat, ia harus meng­-hisab dirinya di dunia sebelum di-hisab di akhirat.Itulah yang diwanti-wanti Allah Ta’ala pada kita saat berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). ”(Al-Hasyr: 18).

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu memahami makna ayat di atas dengan mendalam. Ia berkata kepada rakyatnya, ”Hisab-lah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersikap-siaplah menghadapi Hari Kiamat.”

Generasi sahabat punya tradisi meng-hisab diri mereka,karena takut ditanya Allah Ta’ala pada Hari Kiamat. Amir bin Abdullah berkata, ”Aku pernah melihat dan bersahabat dengan sejumlah sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka bercerita kepadaku bahwa orang paling beriman pada Hari Kiamat ialah orang yang paling sering meng-hisab dirinya.”

Pasca sahabat, datanglah periode tabi’in yang mengerjakan apa yang tadinya dikerjakan generasi pertama Islam. Dikisahkan, Al-Hasan Al-Bashri menangis pada suatu malam, hingga membuat tetangga-tetangga ikut menangis. Esok paginya, salah seorang tetangga datang kepada Al-Hasan Al-Bashri dan berkata kepadanya, ”Tadi malam, engkau membuat keluarga kami menangis.” Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada tetangganya itu, ”Tadi malam, aku berkata kepada diriku, ’Hai Hasan, barangkali Allah melihat sebagian aibmu, lalu berfirman, kerjakan apa saja, tapi Aku tidak menerimanya sama sekali”.

Mereka hidup dengan muhasabah dan bahagia dengan kedalaman iman seperti itu. Mereka tahu apa yang dikehendaki Allah Ta’ala pada mereka dan mereka Al’Qur’an yang bergerak. Satu orang dari mereka sama seperti seribu atau lebih orang dari kita. Jika kita ingin kejayaan dikembalikan kepada kita, maka tidak ada pilihan selain  menapaktilasi jejak-jejak mereka. Adakah di antara kita yang mau mengerjakannya?

 

 

Sumber : Taujih Ruhiyah, Abdul Hamid Al-Bilali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *