Khusyuk Yang Tiada Lagi

Banyak fenomena-fenomena merisaukan muncul di tengah-tengah kita. Misalkan hati keras, mata “kering” tidak bisa menangis, badan labil, dan tidak adanya perenungan ayat-ayat Allah Ta’ala, disebabkan gelombang materi (dunia) yang menyerbu hati kita dengan gencar. Alhasil, materi (dunia) ikut hadir bersama kita di setiap shalat kita, saat kita membaca Al-Qur’an, ketika kita ziarah kubur dan mengunjungi rumah sakit. Tidak sedikit di antara kita yang banyak membaca Al-Qur’an, hatinya tidak memahami apa yang ia baca. Qiyamul lail menjadi ibadah super berat bagi banyak jiwa sebagian orang. Kalaupun ia mengerjakan qiyamul lail, ia mengerjakannya dengan buru-buru dan gerak cepat seperti ayam mematok makanan di tanah. Materi (dunia) itu kotoran yang merusak ke hati kita dan hati tidak mungkin kembali ke kondisi ideal, kecuali dengan membersihkannya dari semua kotoran yang melekat padanya. Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata, “Jika hati kalian bersih, kalian tidak merasa kenyang dengan firman Allah Ta’ala.”

Seseorang tidak hanya perlu membersihkan tubuhnya dengan air, namun juga harus membersihkan hatinya dari kotoran dunia, agar memperoleh kekhusyukan, yang sekarang tiada lagi.

 

Perbedaan antara Khusyuk Hakiki dengan Khusyuk Palsu

Menurut Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah, khusyuk yang benar ialah kekhusyukan iman. Menurutnya, kekhusyukan iman ialah kekhusyukan (ketundukan) hati kepada Allah Ta’ala, dengan cara mengagungkan-Nya, takut, dan malu kepada-Nya. Lalu, hati pasrah kepada-Nya, dalam bentuk kepasrahan yang disertai perasaan takut , malu, mengakui nikmat-nikmat-Nya dan kesalahan-kesalahan dirinya. Jika itu tercapai, hati pasti khusyuk (tunduk), lalu organ tubuh ikut khusyuk.”

Khusyuk ialah merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya saat Anda berdiri di depan-Nya. Juga mengakui seluruh nikmat yang Dia berikan dan tidak dapat dihitung, karena saking banyaknya. Juga ingat kelalaian Anda mengelola seabrek nikmat ini.

Sikap seperti ini membuat Anda malu dan hati tunduk kepada-Nya secara perlahan. Hati berada di pucak ketundukan saat seseorang ingat maksiat-maksiat yang pernah ia lakukan, ingat kelalaian dirinya terhadap rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala kepadanya. Saat itu, hati menjadi khusyuk dan organ tubuh selalu sadar.

Sedang khusyuk palsu, maka itulah khusyuk kemunafikan menurut Ibnu Al-Qayyim. Ia berkata, “Organ tubuh terlihat mengerjakan hal-hal yang dipaksakan hati tidak khusyuk. Salah seorang sahabat berkata,’Aku berlindung kepada Allah dari khusyuk kemunafikan.’ Ditanyakan kepada sahabat itu, ‘Apa itu kemunafikan?’ Sahabat itu menjawab, “Tubuh terlihat khusyuk, tapi hati tidak khusyuk’.”

 

Khusyuk Semu

Banyak orang menduga khusyuk itu menundukkan kepala, atau jalan pelan-pelan, atau merendahkan suara. Mereka lupa kalau khusyuk itu di hati. Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhhu melihat seorang membungkuk saat shalat, lalu Umar bin Khaththab berkata, “Pak, angkat lehermu. Khusyuk itu bukan di leher, namun di hati.”

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu ahli ibadah sejati dikatakan Aisyah Radhiyallahu Anhu ketika melihat sejumlah pemuda berjalan perlahan. Kata Aisyah kepada sahabat pemuda-pemuda itu, “Siapa pemuda-pemuda tersebut?” Sahabat pemuda itu menjawab, “Mereka orang-orang ahli ibadah.” Aisyah berkata, “Jika Umar bin Khaththab berjalan maka cepat, jika berkata maka suaranya keras menggelegar, jika memukul maka menyakitkan, dan jika makan maka sampai kenyang. Ia ahli ibadah sejati. Kendati demikian, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu tidak membungkuk atau jalan perlahan.

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Umar bin Khaththab membaca salah satu ayat, lalu tak sadarkan dirinya. Ia berada di rumahnya berhari-hari dan dikunjungi karena dikira sakit.”

 

Generasi Orang-Orang Khusyuk

Pascagenerasi sahabat, datanglah generasi anak-anak sahabat. Tokoh mereka yang paling hebat ialah Ibnu Az-Zubair Radhiyallahu Anhu. Tentang Ibnu Az-Zubair, Yahya bin Watsab berkata, “Ibnu Az-Zubair sujud dengan khusyuk, hingga sekawanan burung pipit hinggap di punggungnya. Burung-burung pipit itu mengiranya pondasi tembok.”

Ibnu Az-Zubair larut dalam sujud. Ia bermunajat kepada Rabbnya, lupa apa saja yang ada di atas bumi, dan hatinya menyatu dengan Penciptanya hingga seperti melihat-Nya. Betapa indahnya saat-saat ketika jiwa mampu mendaki ke tingkatan seperti itu, lupa seluruh pesona dan daya tarik dunia. Generasi tabi’in belajar sujud dari anak-anak generasi sahabat. Masruq berkata kepada Said bin Jubair, “Hai Abu Said, tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menempelkan wajah kita ke tanah (sujud).”

Masruq tidak sedih saat gagal mendapatkan serpihan dunia dan hanya berduka ketika kehilangan waktu-waktu sujud, yang merupakan waktu terdekat dengan Allah Ta’ala. Masruq berkata, “Saya tidak sedih jika tidak memperoleh dunia dan hanya sedih saat kehilangan waktu sujud kepada Allah Ta’ala.”

Sepertinya, panca indera orang-orang sehebat itu tidak berfungsi saat mereka berdiri di depan Allah Ta’ala. Tidak ada yang mereka lakukan, selain khusyuk di depan-Nya. Abu Bakar Ahmad bin Ishaq berkata di biografi Muhammad bin Nashir Al-Marwazi, “Aku pernah bertemu dua imam. Sayangnya, aku tidak dapat belajar hadist pada keduanya. Keduanya ialah Abu Hatim Ar-Razi dan Muhammad bin Nashir Al-Marwazi. Tentang Muhammad bin Nashir Al-Marwazi, aku belum pernah menemukan orang yang shalatnya lebih baik dari shalatnya. Aku mendapat informasi bahwa kumbang menempel di keningnya, lalu darah mengucur ke wajahnya, tapi ia sama sekali tidak bergerak.”

 

Air Mata Mahal

Api maksiat yang masuk ke hati manusia merubah hati mereka menjadi arang hitam. Api maksiat hanya bisa dipadamkan dengan air mata yang mengalir deras sebab takut kelak dihisab pada Hari Kiamat dan perasaan semua perkataan dan perbuatan selalu diawasi Allah Ta’ala. Tentang air mata mahal ini, Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Jika mata seseorang menguncurkan air mata karena takut Allah, maka Dia mengharamkan neraka menyentuh tubuhnya. Jika air mata mengalir ke pipinya, maka wajahnya tidak hitam dan hina pada Hari Kiamat. Tidak ada amal perbuatan yang berbobot berat dan diberi pahala, kecuali air mata yang keluar karena takut Allah. Air mata seperti itu memadamkan panasnya api neraka. Jika ada seseorang pada suatu umat menangis karena takut Allah, aku berharap umat itu secara keseluruhan dirahmati Allah gara-gara tangis satu orang tersebut,”

Api maksiat dan kelalaian telah merasuki hati kita, lalu membuat hati kita tidak mampu khusyuk. Maukah kita memadamkan api maksiat itu, dengar air mata mahal seperti di atas dan kita berbenah diri mulai sekarang juga ?

 

 

 

Sumber : Taujih Ruhiyah, Abdul Hamid Al-Bilali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *