Orang-orang Misterius

Siapa Orang-Orang Misterius itu?

Mereka orang-orang yang tahu di antara syarat diterimanya perbuatan ialah ikhlas karena Allah Ta’ala.Ikhlas ialah mengharapkan pahala Allah Ta’ala di setiap perbuatan yang dikerjakan seseorang. Karena mereka tahu seperti itu, mereka concern merahasiakan seluruh amal perbuatan mereka, agar perbuatan-perbuatan mereka lebih memungkinkan diterima Allah Ta’ala dan mereka terhindar dari bahaya laten riya’. Mereka bersikap seperti itu juga karena tahu orang pertama dari tiga orang yang neraka dinyalakan pada mereka di Hari Kiamat ialah qari’ (penghapal) Al-Qur’an, orang yang menginfakkan hartanya di hal-hal yang baik, dan mujahid di jalan Allah. Mereka bertiga dimasukkan ke neraka akibat tidak mengharapkan keridhaan Allah di amal perbuatan yang mereka lakukan.

Orang-orang misterius amat merahasiakan amal perbuatan mereka, karena takut mendapatkan hukuman dari Allah Ta’ala.Mereka men-tarbiyah (Membina) para pengikut mereka untuk menerapkan konsep ini. Imam Al-Jailani berkata kepada salah seorang muridnya, ”Beramallah dengan ikhlas dan jangan lihat seluruh amal perbuatanmu. Amal perbuatanmu yang diterima ialah amal perbuatan yang engkau proyeksikan untuk mengharap keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia. Engkau celaka jika beramal untuk manusia, namun engkau berharap amal perbuatanmu diterima Allah.Itu perbuatan gila.”

Pakar tafsir sekaligus salah seorang generasi tabi’in, Abu Al-Aliyah,berkata, ”Sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadaku,”Engkau jangan beramal karena selain Allah. Jika itu engkau lakukan,Allah Azza wa Jalla menyerahkanmu kepada pihak yang menjadi tujuan amalmu.”

Pada Hari Kiamat, orang yang riya’ datang dengan membawa amal perbuatan sebesar gunung, lalu Allah Ta’ala membuatnya menjadi buih yang bertaburan tak berguna, Ia melelahkan diri di dunia dan mendapatkan kelelahan lebih berat di akhirat.Karena itu, ”orang-orang misterius” berteriak dengan lantang di depan orang-orang yang tidak ikhlas, ”Anda tidak usah melelahkan diri.” Murid Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Dinar, berkata,”Katakan kepada orang-orang yang tidak jujur, ’Anda tidak usah melelahkan diri’.”

 

Orang-Orang Misterius Versi Ibnu Al-Jauzi

Ibnu Al-Jauzi menjelaskan perbedaan antara “orang-orang misterius” dengan orang-orang non misterius, ”Adakalanya orang khusyuk dikatakan orang rajin ibadah, orang diam dijuluki orang takut kepada Allah, dan orang yang di benci dunia dianggap orang zuhud. Tanda-tanda orang ikhlas ialah kondisinya tidak berubah saat sendiri atau bersama orang lain.  Terkadang, ia memaksa menebar senyum dan kesenangan pada manusia, agar predikat orang zuhud hilang darinya. Ibnu Sirin tertawa pada siang hari. Jika malam datang, ia seperti membunuh semua penduduk desa.’

Mereka seperti itu. Manusia tidak masuk dalam perhitungan mereka dan mereka hanya gelisah oleh pandangan Allah Ta’ala pada mereka.Orang yang mendambakan simpati manusia pasti kelelahan. Ibnu Al-Qayyim berkata,”Amal perbuatan paling baik ialah Anda tidak memperlihatkannya kepada manusia, karena ikhlas dan juga dari pandangan Anda sendiri sembari mengakui nikmat Allah.Anda memandang Anda dan manusia tidak punya peran di dalamnya.”

 

Contoh-contoh Kerahasiaan Ibadah Orang-Orang Misterius

Tentang Ayyub As-Sakhtiyani, pakar hadist dan orang terpercaya, Hammad bin Zaid, berkata, ”Terkadang,Ayyub menceritakan salah satu hadist, lalu ia terpengaruh olehnya.Ia menoleh dalam keadaan hidung beringas dan berkata.’Ah,pilek ini sungguh berat’.” Ayyub As-Sakhtiyani berlagak seperti pilek, untuk merahasiakan tangisnnya, sebab berharap menjadi salah satu dari orang-orang yang dinaungi Allah Ta’ala di bawah naungan-Nya saat tidak ada naungan selain naungan-Nya.

Jika salah seorang dari generasi tabi’in tidak mampu berlagak sakit untuk merahasiakan air matanya, ia berdiri, sebab khawatir air matanya diketahui banyak orang. Itulah yang disebutkan Imam Al-Bashri. Ia berkata, ”Seseorang duduk di satu tempat. Jika air matanya keluar, ia menahannya. Jika ia khawatir air matanya tidak dapat dibendung, ia berdiri.”

Didorong semangat ingin masuk dalam jajaran “orang-orang misterius”, salah seorang dari generasi tabi’in menangis selama dua puluh tahun, tanpa diketahui istrinya.

Itu seperti dikatakan salah seorang tabi’in, Muhammad bin Wasi’. Ini tingkatkan ikhlas amat tinggi dan adakah tingkat kerahasiaan melebihi ini? Istrinya, yang notabene orang paling dekat dengannya,    tidak tahu tangisnya saat ia bermunajat kepada Allah Ta’ala pada malam hari selama dua puluh tahun, karena takut riya’.

Di biografi Al-Mawardi disebutkan, tidak ada satu pun karya-karyanya yang muncul selama hidupnya. Semua karyanya ia simpan di salah satu tempat. Ketika hendak meninggal dunia, ia berkata kepada orang kepercayaannya, ”Buku-buku di tempat ini (sembari menunjukkan tempat yang dimaksud) adalah karyaku. Jika aku berada di detik-detik kematianku, letakkan tanganmu di tanganku. Jika tanganku berhasil memegang tanganmu, ketahuilah itu berarti tidak ada satu pun bukuku yang diterima Allah. Untuk itu, pergilah ke tempat yang aku maksud, ambil buku-bukuku di dalamnya, lalu buanglah ke sungai Dajlah pada malam hari. Tapi, jika aku membentangkan tanganku dan aku tidak bisa memegang tanganmu, ketahuilah itu pertanda buku-bukuku diterima Allah dan aku berhasil mendapatkan apa yang aku harapkan, yaitu niat ikhlas.”Orang kepercayaan Al-Mawardi berkata, ”Ketika Al-Mawardi hendak meninggal dunia, aku letakkan tanganku di tangannya. Ternyata, ia membentangkan tangannya dan tidak dapat memegang tanganku. Aku pun tahu itu pertanda buku-bukunya diterima Allah. Setelah itu, aku menyebarkan buku-bukunya.”

Al-Muwardi menghabiskan umurnya untuk menulis buku. Ia tidak tidur, hingga beberapa malam dan mengaharamkan dirinya tidur. Setelah itu, ia ingin buku-bukunya dibuang di Sungai Dajlah, karena khawatir terkena riya’?

Sebelum Al-Mawardi, Imam Syafii berkata, ”Aku ingin manusia mempelajari ilmu ini tanpa menisbatkan sedikit pun kepadaku, agar aku mendapat pahala dan mereka tidak memujiku.”

Imam Syafi’i yakin pujian manusia kepadanya itu mengurangi pahalanya dan membuat predikasi “orang misterius” pada dirinya tidak lengkap.

 

 

 

Sumber : Taujih Ruhiyah, Abdul Hamid Al-Bilali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *