Para Penggembala Di Sekitar Cagar Alam

Orang-orang yang masuk dalam lingkaran syubhat diumpamakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seperti para penggembala di sekitar cagar alam. Para penggembala itu tidak tertutup kemungkinan menggembala hewan gembalanya di lahan cagar alam, selagi mereka berada di sekitarnya. Jika seseorang masuk dalam area  syubhat, yaitu hal-hal yang posisinya di antara halal dengan haram, ia terperosok pada hal haram pada suatu ketika, sebab hal-hal syubhat bisa berarti haram atau halal.

Tentang hadist syubhat, Imam Al-Qasthalani berkomentar, “Jika Anda tidak tahu kehalalan sesuatu secara pasti, maka tinggalkan, seperti halnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak memakan sebiji kurma karena khawatir kurma zakat. Puncak wara’ ialah meninggalkan hal-hal halal karena takut terjerumus ke ke dalam hal-hal haram, seperti halnya Ibrahim bin Adham, yang tidak mau menerima gajinya sebab khawatir tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan optimal dan ia memilih menahan lapar.”

Maimun bin Mahran berkata, “ Sesuatu yang halal tidak bermanfaat bagi seseorang sebelum ia mampu mebuat jarak bagi dengan hal-hal haram.”

Karena sebab inilah generasi sahabat meninggalkan banyak sekali hal-hal halal, karena khawatir terjerumus ke dalam hal-hal haram.

 

Generasi Wara’

Generasi pertama Islam tidak memandang remeh dosa dan tidak berdekatan dengan hal-hal syubhat. Bahkan, mereka menganggap dosa sebesar tepung dalam pandangan kita sebagai dosa besar.             Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu berkata kepada generasi tabi’in, “Kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan yang lebih kecil dari rambut menurut pandangan kalian, namun kami menganggapnya dosa besar pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Itu dikatakan Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu kepada generasi tabi’in. Bagaimana kalau ia melihat generasi seperti kita sekarang? Kira-kira apa yang akan ia katakan ?

Orang-Orang yang Melihat Pandangan Allah kepada Mereka

Sungguh tidak etis orang zaman kita yang berkata tentang generasi pertama Islam, “Mereka laki-laki dan kita juga sama laki-laki. Tidak bedanya antara kita dengan mereka.”Demi Allah, orang yang berkata seperti itu tidak obyektif. Status laki-laki tidak diukur oleh jenis kelamin, namun ditentukan oleh sifat-sifat orisinil yang hanya ada pada  generasi seperti generasi pertama Islam. Mereka menguasai dunia, namun bersikap zuhud terhadapnya, karena lebih mengaharapkan apa yang ada di sisi Allah Ta’ala dan mengamalkan firman-Nya,

Dan sesungguhnya akhir (akhirat) itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia).”(Adh-Dhuha :4).

Ibnu Al-Jauzi berkata dengan indah, “ Orang laki-laki ialah orang yang jika berdekatan dengan hal-hal haram yang disukainya, ia saendiri mampu menguasai hal-hal haram itu, dan amat bernafsu terhadapnya karena saking kuatnya keinginan padanya, maka ia melihat pandangan Allah kepadanya, lalu ia malu melampiaskan keinginannya pada hal-hal yang dibenci-Nya. Kehausannya pada hal-hal haram pun hilang darinya.”

 

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu Mengajarkan Hakikat Wara’

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu menguasai dunia, namun ia mencerainya dan memilih akhirat sebab takut ditanya Allah Ta’ala pada Hari Kiamat tentang segala hal yang ia ambil secara ilegal. Ia membuat contoh sikap wara’, yang mirip dengan legenda pada zaman kita sekarang. Dikisahkan, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu menyerahkan parfum itu dijual istrinya. Wanita pembeli parfum berkata, “Istri Umar menjual parfum ini kepadaku.”Lalu, wanita pembeli parfum membuka tutup parfum dengan giginya dan meletakkan sebagian parfum di jari-jarinya. Istri Umar bin Khaththab menirukan apa yang dikerjakan wanita pembeli parfum. Istri Umar bin Khaththab meletakkan jari-jarinya di mulutnya dan mengusapkan parfum ke kerudungnya. Umar bin Khathtab masuk rumah, kemudian berkata, “Bau apa ini?” Istrinya menceritakan apa yang telah terjadi. Umar bin Khaththab berkata kepada istrinya, “Engkau mengambil parfum kaum Muslimin dan menggunakannya?” Lalu, Umar bin Khaththab mencopot kerudung dari kepala istrinya, mengambil air, memercikkan air ke kerudung menggosok kerudung dengan tanah, dan mencium kerudung (untuk memastikan bau parfum telah hilang).

Begitulah Umar bin Khaththab takut ditanya Allah Ta’ala pada Hari Kiamat tentang aset kaum Muslimin. Ah, seandainya Umar bin Khaththab hidup pada zaman kita, lalu melihat apoa yang diperbuat para penguasa terhadap harta kaum Muslimin!

 

Pertemuan Saudara Perempuan Bisyr dengan Imam Ahmad

Sikap Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu tadi dan sikap-sikap generasi sahabat lainnya men­-tarbiyah generasi-generasi sesudahnya. Setelah itu, muncullah di setiap generasi orang setegar Abu Bakar , se­-wara’ Umar bin Khaththab, semalu Utsman bin Affan, dan secerdas Ali bin Abu Thalib.

Imam Ahmad dikenal sebagai sosok yang wara’ hingga menulis buku berjudul Al-Wara’. Pada suatu hari, seorang wanita datang kepadanya, lalu berkata, “Kami sedang ngobrol di lantai atas, lalu lampu Hansip melewati kami dan sinarnya mengenai kami. Apakah kami boleh ngobrol diterangi sinar lampu penjaga Hansip itu ?”

Imam Ahmad kagum dengan kuatnya wara’ wanita penanya dan kecermatan pertanyaannya. Imam Ahmad ingin tahu identitas wanita penanya, lalu ia berkata, “Siapa Anda?” Wanita penanya menjawab, “Saudara perempuan Bisyr Al-Hafi.” Mendengar jawaban itu, Imam Ahmad menangis dan berkomentar “Sikap wara’ sejati muncul dari rumah Anda.”

Wanita tersebut menanyakan boleh tidaknya ia ngobrol dengan disorot sinar lampu Hansip. Apa yang bisa kita katakan melihat realitis ini ? Banyak di antara kita menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi dan titip absen pada temannya. Padahal, ia datang terlambat hingga berjam-jam, tidak menganggap itu sebagai bentuk pencurian, dan hatinya merasa biasa-biasa saja!

 

Ayah Mengajari Anaknya untuk Bersikap Wara’

Sulaiman bin Harb berkata, “ Aku bersama ayahku lalu aku mengambil satu batang jerami di salah satu kebun. Ayah berkata kepadaku, ‘Kenapa engkau mengambilnya ?’ Aku menjawab, ‘Toh cuma satu batang jerami.’ Ayah berkata, ‘Apa yang terjadi kalau manusia mengambil jerami satu demi satu? Apakah masih tersisa satu batang jerami di kebun?”

Di kisah di atas, kita lihat ayah mengajari anaknya untuk tidak memandang kecil satu batang jerami agar kelak tidak memandang kecil sesuatu yang lebih besar dari satu batang jerami. Seperti itulah, generasi cemerlang Islam mengajari anak-anak mereka untuk bersikap wara’ dan menanamkan rasa takut pada Allah Ta’ala.

 

 

 

Sumber : Taujih Ruhiyah, Abdul Hamid Al-Bilali.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *