Sadar dan Orang-orang Sadar

Allah Ta’ala berfirman,

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam lalai lagi berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka satu ayat Al-Qur’an pun yang baru dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main. (Lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang dzalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, ”Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, maka apakah kalian menerima sihir itu, padahal kalian menyaksikannya?” (Al-Anbiya’: 1-3).

 

Hari hisab semakin dekat dari hari ke hari. Jika satu hari Anda berlalu, maka sebagian hari dan usia Anda hilang dari Anda, seperti dikatakan Al-Hasan Al-Bashri. Manusia amat tidak peduli dengan tujuan penciptaan mereka, tidak mengetahui makna nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya. Semua dari kita tahu di antara nama Allah itu Ar-Razzaq (Pemberi Rizki). Tapi, banyak di antara kita merasa getar-getir jika rizkinya diancam “dipangkas” orang lain. Setiap dari kita tahu betul Allah Ta’ala pemberi manfaat dan madzarat. Namun,banyak di antara kita takut dan berharap kepada selain Dia. Manusia tidak begitu peduli dengan hari saat mereka akan pergi dari dunia fana ini. Mereka cuek tidak memikirkan apa yang kelak mereka terima di alam kubur. Mereka tidak memperhatikan hiruk-pikuk kedahsyatan Hari Kiamat. Mereka lalai terhadap banyak hal, karena cinta dunia membuat mereka tidak mengetahuinya.

 

Umur itu Laksana Bazar

Umur itu laksana bazar tempat jual  beli seabrek barang, baik barang bagus atau barang jelek. Orang berakal ialah orang yang memilih membeli barang bermutu kendati harganya mahal, karena lebih awet dari barang jelek meski harganya mahal, karena lebih awet dari barang jelek meski harganya murah. Imam Ibnu Al-Jauzi berkata,”Orang yang tahu kemuliaan alam semesta harus meraih sesuatu yang paling mulia di antara yang ada di alam semesta ini. Umur ini ibarat bazar dan bisnis itu beragam. Banyak orang awam berkata, ”Hendaknya Anda memburu sesuatu yang bisa dibawa dengan ringan, tapi nilainya mahal”. Orang yang sadar sepatutnya mencari sesuatu yang paling mahal nilainya dan sesuatu yang paling berharga di dunia ini ialah mengenal Allah Azza wa Jalla”

Sadar merupakan salah satu bukti kecintaan Allah Ta’ala kepada seorang hamba dan Dia menginginkan kebaikan padanya. Salah seorang generasi tabi’in, Muhammad bin Sirin, berkata, ”Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba-Nya, Dia memberinya pengingat dari hatinya sendiri, yang bertugas menyuruhnya berbuat baik dan melarangnya mengerjakan keburukan.”

Jika seseorang menyimpang dan lalai tidak berupaya mengenal tujuan penciptaan dirinya, ia diingatkan oleh pengingat di hatinya itu. Lalu, ia segera kembali ke jalan yang benar dan Anda lihat dia selalu sadar (tidak lalai).

 

Selalu Sadar

Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah menjelaskan ciri-ciri orang yang selalu sadar, ”Obsesi orang Mukmin selalu menyatu dengan akhirat. Apa saja yang ada di dunia memotivasinya ingat akhirat. Setiap orang disibukkan oleh sesuatu dan obsesinya ialah kesibukannya itu.

Tidakkah Anda lihat sekelompok orang dari berbagai kalangan masuk ke showroom, misalnya, maka Anda lihat pedagang kain mengamati kain dan menaksir harganya ? Anda lihat tukang kayu melihat-lihat atap? Anda lihat arsitek memandang tembok? Dan, Anda lihat penenun melihat tenunan pakaian? Sedang orang Mukmin, jika ia melihat kegelapan, ia ingat kegelapan alam kubur. Jika ia melihat hal-hal nestapa, ia ingat siksa di akhirat. Jika ia melihat orang tidur, ia ingat orang-orang mati di alam kubur. Jika ia melihat kenikmatan, ia ingat surga. Obsesinya selalu terkait dengan itu semua dan itulah yang selalu menyibukkannya.”

Orang Mukmin selalu sadar. Ia mengaitkan apa saja yang dilihatnya di atas bumi dengan akhirat. Ia tidak lupa sedetik pun tujuan penciptaan Allah Ta’ala terhadap dirinya. Dengan cara seperti itu, ia selalu beribadah. Orang-orang yang sadar itu tidak satu tingkat. Mereka terbagi ke dalam beberapa tingakatan, seperti terlihat berikut ini.

 

Tingkatan Orang –Orang Sadar

Ibnu Al-Jauzi menyebutkan tingkatan orang-orang sadar, ”Ada orang yang dikalahkan hawa nafsunya dan wataknya menghendakinya mengerjakan apa saja yang disukainya dan menjadi kebiasaannya. Orang seperti ini ”berjalan mundur”, menasehatinya tidak bermanfaat,dan mengingatkannya sama saja dengan menambah debat kusir dengannya.

Ada  lagi orang yang berdiri di antara dua posisi dalam menjalani proses mujahadah; akal yang menyuruhnya bertakwa dan hawa nafsu yang menuntutnya melampiskan syahwatnya.

Ada lagi orang yang setelah melakukan mujahadah; panjang,tapi ia kembali kepada kejahatan, lalu ia meninggal dunia sebagai orang jahat.

Ada lagi orang yang sekali waktu menang dan sekali waktu kalah. Luka-lukanya tidak membuatnya mati.

Ada lagi orang yang ditaklukkan musuhnya dan ditahan di penjara. Lalu,musuhnya punya kesempatan luas menimbulkan was-was padanya.

Ada lagi orang yang tidak “tidur” sejak “bangun” (sadar) dan tidak berhenti berjalan sejak mulai berjalan. Ia berobsesi terus berjalan dan mendaki. Jika ia berhasil melintasi salah satu maqam, ia melihat kekurangan dirinya, lalu ia beristighfar.”

Kelompok terakhir itulah orang-orang yang jiwanya tinggi menyatu dengan tujuan luhur dan berhasil mengalahkan apa saja yang “berbau” tanah. Mereka orang-orang yang tidak ingat lagi tidur yang dibutuhkan setiap orang. Murid Ibnu Abbas, Thawus, berkata, ”Ingat neraka Jahannam membuat ahli ibadah tidak bisa tidur.”

 

 

Sumber : Taujih Ruhiyah, Abdul Hamid Al-Bilali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *